Pada awal kemunculannya, robot Facebook hadir sebagai simbol kecanggihan otomatisasi di media sosial. Ia menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan interaksi tanpa henti—sebuah solusi pintar untuk mengelola komentar, menjawab pertanyaan, dan menjaga engagement tetap hidup di tengah derasnya arus pengguna. Banyak pelaku bisnis, kreator, hingga pengelola halaman memandangnya sebagai tangan kanan digital yang bekerja siang dan malam tanpa lelah.

Namun seiring waktu, citra itu perlahan memudar. Robot komentar Facebook—program otomatis yang dirancang meniru interaksi manusia—tak lagi hanya dimanfaatkan untuk tujuan positif. Penyalahgunaan oleh spammer, penyebaran tautan berbahaya, hingga praktik manipulasi interaksi membuat keberadaannya dipandang dengan curiga. Dari alat bantu yang sempat diagungkan, robot Facebook kini menjadi bagian dari sejarah kelam yang ditinggalkan oleh perubahan kebijakan, teknologi moderasi, dan kesadaran akan etika bermedia sosial.