Cerita ini merupakan sebuah karangan fiksi yang terinspirasi dari dongeng dan cerita rakyat yang berkembang secara lisan di tengah masyarakat. Kisah-kisah seperti ini pada masa lalu kerap disampaikan sebagai cerita pengantar tidur bagi anak-anak, dituturkan dari mulut ke mulut, dan diwariskan lintas generasi sebagai sarana hiburan sekaligus penyampai pesan moral.
Seluruh rangkaian peristiwa dan tokoh dalam cerita ini bersifat imajinatif dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kejadian nyata. Melalui penulisan kembali kisah ini, pembaca diharapkan dapat menikmati suasana dongeng klasik yang sarat makna, sekaligus memetik pelajaran yang dapat dijadikan bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.
Ular Jelmaan dan Gadis yang Serakah
Pada suatu waktu, hiduplah seorang gadis miskin di sebuah desa kecil. Untuk menyambung hidup, setiap hari ia pergi ke hutan mencari makanan dengan memetik daun pakis. Sambil berjalan, ia bernyanyi dengan suara lirih dan penuh kesedihan:
“Dengan apa aku memasak, tidak ada garam.
Dengan apa aku makan, tidak ada nasi.”
Tiba-tiba nyanyian itu dijawab oleh sebuah suara yang berat dan bergema. Gadis itu terkejut dan berhenti melangkah. Ia menoleh ke sekeliling, namun tidak melihat siapa pun. Setelah diperhatikan lebih saksama, ternyata suara itu berasal dari seekor ular besar yang melingkar di balik semak-semak.
Ular itu kemudian berbicara dan mengaku sebagai Raja Ular. Ia berkata bahwa telah lama mendengar nyanyian gadis itu dan merasa iba pada kehidupannya. Raja Ular lalu berjanji, jika gadis itu bersedia membawanya pulang dan menikah dengannya, maka hidupnya akan berubah dan ia tidak akan kekurangan lagi.
Dengan rasa takut bercampur harap, gadis itu akhirnya menerima tawaran tersebut. Ia membawa Raja Ular pulang ke rumahnya dan menikah dengannya. Sejak saat itu, kehidupannya perlahan berubah. Kebutuhan hidupnya selalu tercukupi, dan tak lama kemudian ia menjadi kaya raya. Namun gadis itu tidak pernah menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun.
Perubahan itu menarik perhatian gadis tetangganya, yang mulai merasa heran sekaligus iri. Ia tidak mengerti bagaimana seorang gadis miskin bisa berubah menjadi kaya. Diam-diam, gadis tetangga itu mengamati, menyelidiki, dan mengintip kehidupan tetangganya. Akhirnya ia mengetahui bahwa semua kekayaan itu berawal dari seekor ular yang dibawa pulang dari hutan.
Karena dikuasai rasa iri dan keserakahan, gadis tetangga itu ingin meniru perbuatan tersebut. Ia pun pergi ke hutan dan mencari ular. Setelah menemukan seekor ular besar, ia membawanya pulang tanpa berpikir panjang.
Sesampainya di rumah, gadis serakah itu memasukkan ular tersebut ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia yakin ular itu akan membawa kekayaan seperti yang dialami tetangganya. Malam pun tiba, dan gadis itu masuk ke kamar untuk mendekati ular tersebut.
Namun ular yang dibawanya bukan Raja Ular, melainkan ular asli. Saat gadis itu lengah, ular tersebut melilit dan mulai menelan kaki gadis itu.
Dengan kesakitan, gadis itu berteriak keras, “Mama! Kakiku digigit!”
Ibunya mendengar teriakan itu dari luar kamar. Namun ia salah paham dan mengira ular itu sedang memasangkan gelang emas di kaki anaknya. Karena itu, ia tidak segera menolong.
Ular itu terus melilit dan menelan tubuh gadis itu hingga ke pinggang. Gadis itu kembali berteriak meminta tolong, tetapi ibunya mengira ular itu sedang memasangkan ikat pinggang emas.
Saat ular mencapai tangan, gadis itu menjerit semakin lemah. Namun ibunya kembali salah paham dan mengira ular itu sedang memakaikan gelang emas di tangan. Ular itu terus melilit naik hingga ke leher.
Ketika ular sampai di leher, gadis itu berteriak untuk terakhir kalinya. Ibunya mengira ular itu sedang memakaikan kalung emas di leher, lalu tidak menyadari bahaya yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, ular itu menelan kepala gadis tersebut dan suara teriakan pun terhenti. Barulah ibunya merasa ada yang tidak beres. Ketika pintu kamar dibuka, yang terlihat hanyalah sisa-sisa peristiwa mengerikan itu. Gadis tersebut telah mati ditelan ular asli akibat keserakahan dan keinginannya meniru tanpa memahami kebenaran.
Sejak saat itu, kisah ini menjadi peringatan bagi siapa pun bahwa rezeki tidak datang dari rasa iri dan keserakahan, serta meniru tanpa mengetahui hakikatnya hanya akan membawa bencana.
Demikianlah kisah yang dapat disampaikan. Semoga cerita ini dapat dinikmati sebagai hiburan sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan membawa konsekuensinya masing-masing. Nilai-nilai yang tersirat di dalam cerita ini diharapkan dapat dipahami dan dijadikan bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Sampai jumpa di cerita berikutnya, dengan kisah-kisah lain yang tak kalah sarat makna dan pelajaran.

Tidak ada komentar
Posting Komentar